Jumat, 08 Januari 2010

Cenderamata Makassar ada disini


Bali merupakan salah satu daerah yang penuh dengan cerita, misalnya ketika orang-orang luar yang berkunjung kesana pasti ingin menikmati betapa indahnya panorama pantai Kuta, menyaksikan pertunjukan tarian Kecak, dsb. Apalagi dengan adanya Joger yang sangat terkenal dengan produk baju kaosnya,sendal jepit, souvenir dan sebagainya menjadi icon baru pulau Bali sehingga dengan melihat simbol Joger saja orang sudah mengira itu ada di Bali.Berbeda juga dengan ciri khas kota Jogja, Jakarta, Bandung dan kota-kota

lainnya. Kota Makassar pun juga
memiliki khas tersendiri, seperti yang terdapat pinggir pantai Losari dan Benteng Rotterdam yang menjual aneka cenderamata icon-icon kota Makassar misalnya Paotere, Benteng Rotterdam,Paraga dan banyak lagi yang dikemas kedalam bentuk buah tangan sebagai oleh-oleh. Hanya dengan menggunakan bahan baku karung goni, cenderamata yang dihasilkan pun beraneka ragam misalnya tas, dompet, lukisan bahkan dijadikan sebagai jaket. Masih banyak lagi yang dijual disitu misalnya baju kaos khas kota Makassar, Anda bisa menjumpainya hanya di hari minggu pagi ketika masyarakat kota makassar rame berjalan pagi di pinggir pantai losari dan Benteng Rotterdam.



Review Pameran Tunggal Foto "Makassar Unlimited" by Irsan Jafar




Pameran tunggal foto ini mengambil tema sentral yaitu Makassar Unlimited. Jika kita memaknai makassar unlimited (makassar tanpa batas) berarti dalam hal ini makassar dalam perputaran waktu yg tidak memiliki batas dalam hal apapun atau lebih singkatnya makassar dalam gambaran umum dan komprehensif. Sangat global memang “unlimited” tersebut, tetapi pameran tunggal tersebut berusaha memandang makassar dari sudut lain, yaitu pendekatan sudut pandang “foto seni rupa”. Kita tahu di Makassar banyak sudut-sudut yang menarik untuk di abadikan ke dalam foto tetapi kita belum tentu mendapatkan sense of art dari sudut tersebut.

Berkarya foto seni yang merupakan bagian fotografi, selalu mengedepankan konsep estetis dimana segala unsur penciptaan karya foto selalu dipertimbangkan, dari pencahayaan sampai proses cetak. Mulai dari awal hingga akhir harus direncanakan dengan baik, karena saat ini foto seni sama rumitnya dengan karya seni lain.

Berbicara tentang posisi fotografi dalam konteks kesenirupaan (visual art) bisakah fotografi dimasukkan ke dalam keluarga seni rupa??

Foto Seni Rupa

Foto Seni Rupa
Ekspresi Fotografi Digital
Oleh : Goenawan Monoharto

Istilah Foto Seni Rupa muncul beberapa tahun terakhir ini dalam wacana fotografer Indonesia, berawal dari mata rantai Kontes Foto Inovasi yang diselenggarakan oleh HISFA Jogjakarta Tahun 2001. Ketika itu diumumkan, persyaratan utama foto yang akan dilombakan adalah foto yang inovasinya terbilang ekstrim. Baik dilakukan oleh pekaryanya pada saat pemotretan, lewat teknik laboratorium maupun di kelola secara imaging digital atau rekayasa komputer. Kontes Foto yang menarik minat seniman - seniman foto tersebut, secara tidak langsung telah membuka “jalan” baru bagi perkembangan fotografi di Indonesia.
Foto Seni Rupa begitu cepat mencuat ke permukaan, setelah Kontes Foto Inovasi Hisfa 2001 di Jogjakarta. Tak dapat dipungkiri bahwa seorang pakar fotografi dan seniman foto yang bernama Agus Leonardus, telah membuka genre baru dalam perkembangan fotografi di Indonesia utamanya dalam jenis Foto Seni Rupa. Saat itu banyak tanggapan dan komentar muncul setelah melihat karya - karya baru yang menghentakkan itu.
Diketahui bahwa, jauh sebelum era digital merebak, maniak fotografi sudah berkarya secara manual guna menemukan bentuk “miring” yang jauh menyimpang dari karya foto salon. Sehingga muncullah aliran karya yang disebut fine art, foto eksperimen dan foto kreatif yang selalu sarat dengan nuansa dan muatan absurditas serta tak pernah selesai dalam pencariannya. Rata – rata pekarya aliran yang satu ini, mengutamakan ego idealisme, serta rasa kepuasan batin sebagai seorang seniman foto yang mengesampingkan dulu untuk mendapatkan profit dari profesionalismenya.
Orang foto yang bernaung di bawah payung organisasi fotografi yang masih sangat fanatik dengan karya yang belum tersentuh dengan perangkat lunak, merasa sedikit “risih” atas fenomena Foto Seni Rupa. Kendati dengan lapang dada mereka harus menerima kenyataan itu, tak menyangka akan secepat itu laju perkembangannya. Selanjutnya diketahui bahwa telah terjadi loncatan tinggi dalam kreativitas karya fotografi di Indonesia. Era digital dianggap sudah memporak - porandakan paradigma dan teknik fotografi lama.
Pemanfaatan teknik digital di dalam mengeskpresikan sebuah karya Foto Seni Rupa, sekarang ini merupakan hal yang dominan. Peran teknologi digital dianggap menjadi sangat penting, namun bukan berarti pekarya atau seniman foto, sekedar mau mencari kemudahan – secara instan - dalam mencipta. Tetapi mau tidak mau, action kemajuan teknologi digital bakal terus mempengaruhi karya fotografi, yang diserapnya dalam berbagai eksperimen yang menuai hasil hingga sangat menakjubkan.
Faktanya, peraih medali salon foto Indonesia - lomba yang foto paling bergengsi di republik ini - beberapa tahun terakhir, justru didominasi dari karya foto hasil pergaulan “intim” dengan teknologi digital, baik dengan kamera maupun pemakaian perangkat lunak program komputer. Tak dapat dipungkiri dan dielakan bahwa, kelak, pasti akan lahir generasi - pekarya fotografi yang kurang menguasai teknik fotografi standar atau baku. Mudah - mudahan saja kecemasan ini tidak terjadi. Tetapi yang pasti terjadi adalah perkembangan teknologi telah membuka ruang, dan kekayaan ruang ekspressi itu dapat digauli dengan pendekatan masing - masing kreator dengan berbagai anutan yang dapat memperkaya atau sekaligus mempermiskin inovasi karya fotografi.
Dalam mengekspresikan karya foto yang memakai “alat bantu” olah digital, alangkah baiknya jika berawal dari selembar foto atau sebuah kutipan (shoot) pada kamera. Akan lebih baik lagi jika karya tersebut dilahirkan dari sebuah konsep seni rupa yang bermula dari benak seorang seniman foto. Ibaratnya membangun sebuah rumah, blue print yang dari pembangunan rumah tersebut menjadi sangat penting untuk mewujudkan hasil akhirnya.
Sebab seorang fotografer, meskipun ia sudah memakai kamera digital yang tercanggih sekalipun setidaknya banyak keterbatasan yang akan dihadapinya. Apalagi jika hanya memakai kamera yang biasa (manual). Keterbatasan yang dihadapi selain masalah peralatan, juga dalam hal pengambilan subyek seperti lokasi, waktu, cuaca, dan segala macam keterbatasan lainnya. Sehingga aura yang ingin didapatkan seperti yang dalam pikiran (konsep dan gagasan) tidak akan tercapai. Untuk itu seorang seniman foto memamfaatkan perangkat lunak yang salah satunya disebut Photoshop dalam berkarya, adalah bagaimana memamfaatkan fasilitas tersebut sebagai penyempurnaan dalam mencapai aura yang diinginkan dalam karyanya.
Demikian pula dengan karya Foto Seni Rupa yang disentuh dengan perangkat lunak, setidaknya wajib mempunyai gagasan sekecil apapun di dalamnya. Hal tersebut, tentu saja tidak terlepas dari penonjolan goresan keindahannya. Hanya saja ada kekuatiran bahwa, jangan sampai lebih indah foto dasarnya ketimbang dari hasil akhir dari karya foto yang justru sudah diolah secara digital imaging. Kecuali jika memang si seniman foto itu, menghendaki ekspresi lain pada karya fotonya, dengan konsep “trial and error” - penyimpangan dan pengrusakan keindahan.
Foto seni rupa adalah lebih mementingkan penyampaian pesan (message) dan bentuk (form) ketimbang syarat - syarat lainnya sebagai sebuah foto yang baik. Kendati pun tak dapat disepelekan soal teknik fotografi yang baku / konvensional maupun sentuhan akhir (hasil cetakan laboratorium) sebuah karya foto. Sebab untuk mendapatkan hasil fotografi yang indah dan sempurna dalam penggarapan imaging digital, haruslah mempunyai bahan dasar sebuah foto yang berkualitas baik dari segi teknik.
Proses kreatifnya, adalah bermula dari sebuah gagasan yang dituangkan pada sebuah hasil jepretan. Sangat sederhana proses kreatif itu, namun sama sekali tidak instan. Prinsip yang paling penting adalah, kejelian visi dan bagaimana menuangkan rasa sensitivitas dalam mengolah foto tersebut. Nah bagaimana dengan kita, dimana mesti berpijak dalam memberi citra pada karya foto itu. Terserah masing-masing pilihan. Selamat Sukses.

Minggu, 10 Mei 2009

KONSER YANG “DI AMBANG BATAS”




Suasana malam di kota Makassar begitu ramainya, bak kota yang sedang “naik daun” terlebih lagi di gedung bekas bangunan Belanda yang disebut Societiet de Harmonie (Gedung Kesenian Makassar) yang ramai oleh para seniman, mahasiswa dan pelajar Makassar ketika sebuah pertunjukan kesenian digelar.
Pada sebuah malam, baligho berukuran 3x4 m terpampang di pelataran Societiet de Harmonie yang isinya undangan pertunjukan musik Mini Orchestra oleh beberapa mahasiswa Seni Musik Fak. Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Ada yang menarik dari baligho itu yakni kata Di Ambang Batas, seolah sesuatu yang akan ditampilkan pada pertunjukan itu merupakan karya yang memiliki akhir “kritis”. Karena rasa penasaran akan maksud dari kata-kata itu akhirnya saya berniat untuk menyaksikan pertunjukan itu langsung. Saya pun mengambil tempat paling depan dan kamera pun siap beraksi untuk mengabadikan moment tersebut. Soalnya di Makassar pertunjukan musik seperti ini masih jarang apalagi karya ini merupakan karya dari mahasiswa.
Konser Musik “Di Ambang Batas” merupakan studi akhir di dalam jurusan Sendratasik FSD-UNM. Ini merupakan kewajiban bagi mahasiswa di dalam menyelesaikan studi sebelum menggarap tugas akhir skripsi. Sebagai karya akhir yang konseptual dan sangat deskriptif, konser kali ini menampilkan dua karya masing-masing mengambil konsep tentang “Sesali Cinta” dan “Ritual Kelambu” dari mahasiswa yang akan menyelesaikan studi dan mengejar “deadline”, sehingga mengambil tema sentral “Di Ambang Batas”. Dalam konser tersebut juga menampilkan beberapa karya dari mahasiswa dan dosen seni musik sebagai musik pembuka.
“Sesali Cinta” adalah satu tema yang dipilih oleh komposer A. Iip Panyiwi sebagai karyanya. Tema “Cinta” yang diangkat terinspirasi oleh sebuah pengalaman pribadi sang komposer. Suatu ketika sang komposer mendapatkan seorang kekasih yang sangat ia sayangi dan ia cintai, seiring waktu berjalan komposer bersama kekasih melewati hari-hari yang bahagia. Dari perjalanan cinta itu sang komposer belajar banyak hal tentang arti cinta dan hidup. Namun di perjalanan itu keduanya pun berpisah dan kekasih pun pergi entah di mana. Perpisahan itu sangat disesali oleh komposer karena kekasih tidak mengajarkan padanya bagaimana cara melupakannya.
Latar belakang inilah yang menjadi konsep dasar sajian musik “Sesali Cinta”, dituangkan ke dalam bentuk karya solo vokal dan diiringi dengan ansambel besar. Pertunjukan musik dalam bentuk seperti ini masih jarang di jumpai di Sulawesi Selatan, sehingga komposer ingin menampilkan sajian musik yang berbeda di Makassar.
Selain tema Sesali Cinta, tema lain yang juga ikut mewarnai pertunjukan musik tersebut yaitu “Ritual Kelambu”, selama ini kelambu menjadi tempat yang sangat pribadi bagi manusia dan mengandung makna simbolik. Dalam mitologi masyarakat Sulsel, kelambu sebagai ruang memulai hidup kemudian mengabdi kepada Sang Pencipta kehidupan dan mengakhiri hidup. Selain itu Kelambu juga memiliki makna sebagai pelindung dari banyak sisi, ini terkait dengan prinsip Sulappa Appa. Konsep dasar inilah yang menjadi inspirasi karya musik komposer A. Awaluddin. Komposer menggarap sajian musik yang berbeda dengan memainkan beberapa instrument modern dan tradisional dan syair yang sarat dengan pesan-pesan seperti dalam tradisi bugis.
Diantara syairnya
“Iya Belale”
Iya belale Iko ana Bau
Mattinro tudang ammo
Mumantinro tudang
Mutuo Mallongi-longi
Artinya :
Hai anak rupawan, tidurlah
Jangan sampai kau tertidur sambil duduk
Ketika kau tidur, tidurlah yang nyenyak
Tidurlah, semoga hidupmu kelak akan baik.
Selain itu dalam karya komposer tersebut juga menampilkan komposisi gerak dalam bentuk tari kontemporer di dalam kelambu sebagai makna kehidupan yang selalu berubah dan bergerak.
Pada pertunjukan musik ini, juga menghadirkan sajian musik paduan suara dan pertunjukan musik biola dari Pizzicato Mini School. PMS ini memainkan salah satu karya J.S Bach berjudul Marche.
Suasana dalam gedung begitu senyap ketika satu-persatu sajian musik di tampilkan, tatkala penonton larut dalam menikmati beberapa karya komposer-komposer musik muda. Pertunjukan musik dengan durasi 120 menit diakhiri dengan sorak tepukan tangan dari para penonton yang terdiri dari kalangan seniman, pengajar seni, mahasiswa, dan masyarakat umum. Pertunjukan tersebut merupakan satu referensi perkembangan musik di Makassar yang masih “umum”, dalam pengertian bagaimana kita menciptakan musik yang berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Maju terus musik Indonesia.

Selasa, 27 Januari 2009

Paotere yang Menawan


Bila anda jalan-jalan ke Makassar jangan lupa singgah di pelabuhan kapal nelayan Paotere, letaknya dibagian utara kota Makassar. Disana memang kotor dan kumal mungkin karena kurangnya perhatian dari pemerintah, semoga paotere di hari-hari mendatang bisa lebih baik lagi dan lebih bersih. Namun di sisi lain Paotere menyimpan banyak keindahan-keindahan alam di kala senja dan pagi hari. Gak percaya?? datang aj...