Minggu, 10 Mei 2009

KONSER YANG “DI AMBANG BATAS”




Suasana malam di kota Makassar begitu ramainya, bak kota yang sedang “naik daun” terlebih lagi di gedung bekas bangunan Belanda yang disebut Societiet de Harmonie (Gedung Kesenian Makassar) yang ramai oleh para seniman, mahasiswa dan pelajar Makassar ketika sebuah pertunjukan kesenian digelar.
Pada sebuah malam, baligho berukuran 3x4 m terpampang di pelataran Societiet de Harmonie yang isinya undangan pertunjukan musik Mini Orchestra oleh beberapa mahasiswa Seni Musik Fak. Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Ada yang menarik dari baligho itu yakni kata Di Ambang Batas, seolah sesuatu yang akan ditampilkan pada pertunjukan itu merupakan karya yang memiliki akhir “kritis”. Karena rasa penasaran akan maksud dari kata-kata itu akhirnya saya berniat untuk menyaksikan pertunjukan itu langsung. Saya pun mengambil tempat paling depan dan kamera pun siap beraksi untuk mengabadikan moment tersebut. Soalnya di Makassar pertunjukan musik seperti ini masih jarang apalagi karya ini merupakan karya dari mahasiswa.
Konser Musik “Di Ambang Batas” merupakan studi akhir di dalam jurusan Sendratasik FSD-UNM. Ini merupakan kewajiban bagi mahasiswa di dalam menyelesaikan studi sebelum menggarap tugas akhir skripsi. Sebagai karya akhir yang konseptual dan sangat deskriptif, konser kali ini menampilkan dua karya masing-masing mengambil konsep tentang “Sesali Cinta” dan “Ritual Kelambu” dari mahasiswa yang akan menyelesaikan studi dan mengejar “deadline”, sehingga mengambil tema sentral “Di Ambang Batas”. Dalam konser tersebut juga menampilkan beberapa karya dari mahasiswa dan dosen seni musik sebagai musik pembuka.
“Sesali Cinta” adalah satu tema yang dipilih oleh komposer A. Iip Panyiwi sebagai karyanya. Tema “Cinta” yang diangkat terinspirasi oleh sebuah pengalaman pribadi sang komposer. Suatu ketika sang komposer mendapatkan seorang kekasih yang sangat ia sayangi dan ia cintai, seiring waktu berjalan komposer bersama kekasih melewati hari-hari yang bahagia. Dari perjalanan cinta itu sang komposer belajar banyak hal tentang arti cinta dan hidup. Namun di perjalanan itu keduanya pun berpisah dan kekasih pun pergi entah di mana. Perpisahan itu sangat disesali oleh komposer karena kekasih tidak mengajarkan padanya bagaimana cara melupakannya.
Latar belakang inilah yang menjadi konsep dasar sajian musik “Sesali Cinta”, dituangkan ke dalam bentuk karya solo vokal dan diiringi dengan ansambel besar. Pertunjukan musik dalam bentuk seperti ini masih jarang di jumpai di Sulawesi Selatan, sehingga komposer ingin menampilkan sajian musik yang berbeda di Makassar.
Selain tema Sesali Cinta, tema lain yang juga ikut mewarnai pertunjukan musik tersebut yaitu “Ritual Kelambu”, selama ini kelambu menjadi tempat yang sangat pribadi bagi manusia dan mengandung makna simbolik. Dalam mitologi masyarakat Sulsel, kelambu sebagai ruang memulai hidup kemudian mengabdi kepada Sang Pencipta kehidupan dan mengakhiri hidup. Selain itu Kelambu juga memiliki makna sebagai pelindung dari banyak sisi, ini terkait dengan prinsip Sulappa Appa. Konsep dasar inilah yang menjadi inspirasi karya musik komposer A. Awaluddin. Komposer menggarap sajian musik yang berbeda dengan memainkan beberapa instrument modern dan tradisional dan syair yang sarat dengan pesan-pesan seperti dalam tradisi bugis.
Diantara syairnya
“Iya Belale”
Iya belale Iko ana Bau
Mattinro tudang ammo
Mumantinro tudang
Mutuo Mallongi-longi
Artinya :
Hai anak rupawan, tidurlah
Jangan sampai kau tertidur sambil duduk
Ketika kau tidur, tidurlah yang nyenyak
Tidurlah, semoga hidupmu kelak akan baik.
Selain itu dalam karya komposer tersebut juga menampilkan komposisi gerak dalam bentuk tari kontemporer di dalam kelambu sebagai makna kehidupan yang selalu berubah dan bergerak.
Pada pertunjukan musik ini, juga menghadirkan sajian musik paduan suara dan pertunjukan musik biola dari Pizzicato Mini School. PMS ini memainkan salah satu karya J.S Bach berjudul Marche.
Suasana dalam gedung begitu senyap ketika satu-persatu sajian musik di tampilkan, tatkala penonton larut dalam menikmati beberapa karya komposer-komposer musik muda. Pertunjukan musik dengan durasi 120 menit diakhiri dengan sorak tepukan tangan dari para penonton yang terdiri dari kalangan seniman, pengajar seni, mahasiswa, dan masyarakat umum. Pertunjukan tersebut merupakan satu referensi perkembangan musik di Makassar yang masih “umum”, dalam pengertian bagaimana kita menciptakan musik yang berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Maju terus musik Indonesia.

Selasa, 27 Januari 2009

Paotere yang Menawan


Bila anda jalan-jalan ke Makassar jangan lupa singgah di pelabuhan kapal nelayan Paotere, letaknya dibagian utara kota Makassar. Disana memang kotor dan kumal mungkin karena kurangnya perhatian dari pemerintah, semoga paotere di hari-hari mendatang bisa lebih baik lagi dan lebih bersih. Namun di sisi lain Paotere menyimpan banyak keindahan-keindahan alam di kala senja dan pagi hari. Gak percaya?? datang aj...